Selasa, 07 Agustus 2012

+++---Jangan Asal Umbar Kepribadian di Jejaring Sosial---+++

Yah setelah aku pikir2 buat apa aku buat ni blog ? why not ? jika harus share pengalaman pribadi aku. Emang si pertama kali aku bikin blog aku iseng aja. Ya pengin kyak para mastah2 getu. Bisa mengalirkan uang dengan blog. Punya banyak follower. Pokoknya doble wow deh in my opinion. Tapi seiring berjalannya waktu. Kayaknya aku tidak bisa seperti para mastah2. Eh, aku ralat omonganku tadi. Maksudku ya belom bisa lah lebih tepat.nya. lalu setelah aku memeras otak, sampek2 otakku berkelok-kelok. Don’t know deh mbulet. Hasilnya gak nihil2 amat cii. Ya seperti yang aku bilang tadi bahwa buat mosting share pengalaman pribadi gitu deh. Dan untuk share pengalaman pribadi untuk pertama kalinya aku mulai dengan “jangan asal umbar kepribadian di jejaring sosial.” Yah. Topik ini masih hangat sekali aku alamin kemarin. Okeh. Langsung aku bercerita ya. Berawal dari aku update status gini “jiahh, bez nii punya adek baru nii”(yah seingetku gitu lah). Ya aku sih iseng aja update gitu. Karena aku shock berat pas suatu malam aku mo bikin mie di dapur. Eh aku nemuin kardus susu ibu hamil. Lha pas saat itu juga ada ibu nyamperin aku. Setelah itu mataku hanya tertuju pada one direction that’s perutnya ibu. Lalu, aku to the point tanya ke beliau “loh bu, sampean hamil ta ?”. jawabnya dengan suara lirih. “loh loh sampun pirang wulan bu?” tanyaku penuh penasaran. “4 bulan. “ jawabnya. “lanopo kulo mboten di sanjangi bu?” tanyaku masih sedikit shock. “pean purun ta gadah adek maleh rih” tanyanya dengan rasa bersalah. “nggeh. Sembarang “. Jawabku tenang. Ya intinya aku gak percaya lah dengan kondisi ibu saat itu. Dan maklum kan aku update status yang tadi. Iya mungkin banyak temenku yang kaget. Iya jelas lah. Keluarga ini udah punya 3 anak. Ya termasuk keluarga mokong terhadap negara. Kwkkw tapi dalam islam kan dianjurkan memiliki banyak anak. Dan hari hari berikutnya dengan tenang . eh kemaren ibu marah besar sama aku. Intinya kenapa aku harus umumin ke publik bahwa beliau sedang hamil. Iya tau kalo’ aku updet status gitu, pas temen belanjanya tuh tanya langsung ke ibu aku. “loh mbak, ada isinya toh?”. Lah temenya ibu itu sohibq. Jelas dia tau dari status di pesbuk ane. Iya dengan kondisi saat itu beliau merasa minder karena punya anak yang sudah joko and perawan. Nie gua perawannya. Wkwkkwkw Sumpah. Aku belum pernah nyesel berat seperti hari kemaren. Pokoknya pengen gitu berlutut minta maaf dan aku seperti di hantui dengan kesalahan. Yah hatiku gak tenang banget. Dan sampek sekarang aku gak tenang banget. Serasa aku mempermalukan ibu yang paling aku cintai di depan publik. Dengan berlalunya peristiwa di atas. Aku punya sebuah pedoman baru yang gak akan aku lupakan seumur hidup aku. Bahwa “Jangan Asal Umbar Kepribadian di Jejaring Sosial”. Aku pernah sih baca artikel tentang gituan. Ya buat aku sih gak mempan banget. Ya sekedar ilmu tambahan lah. Tapi ketika aku benar-benar ngalamin yang sesungguhnya. I’VE TO BELIEVE TOTALLY. Ya that’s all my unforgettable experience yesterday. I do hope, it can’t get on you. Don’t forget to care and respect to you mother. Thank’s to read my this post. :):):) semoga bermanfaat

Senin, 06 Agustus 2012

Awas, Banyak Ustadz ''Gadungan'' di Televisi

TEMPO.CO , Jakarta - Majelis Ulama Indonesia melihat banyak ulama yang tidak berkompeten dan berintegrasi tampil menjadi penceramah agama di televisi.

"Harunysa kualitas dan validitas serta keteladanan juru dakwah diperhitungkan," kata Wakil Ketua Tim Pemantau TV Ramadan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Imam Suhardjo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 6 Agustus 2012.

Imam mengatakan, banyak tayangan komedi yang berujung pada makian atau melecehkan individu atau sekelompok orang. Ia prihatin, sebagian penceramah agama itu justru larut di skenario komedi.

Imam mencontohkan tayangan di Indosiar ketika Inul Daratista mengatakan "Pak saya nggak mandul lho, buktinya saya punya anak." Kemudian, ustadz menanggapi dengan perkataan "Lagian bukannya dibor malah ngebor."

Menurut Imam, pernyataan ini justru merendahkan seorang ustadz. Ia juga menyayangkan ustadz lain di Trans TV yang juga ikut ambil bagian waktu joget bersama secara berlebihan.

Imam mencermati, banyak dai yang menyampakan riwayat keagamaan dengan akurasi yang rendah. "Menggunakan hadis yang tidak sahih," kata Imam. Ia berharap para penceramah terus berusaha meningkatkan kompetensinya sebagai ustadz.

Menurut Imam, ustadz yang mempunyai kompetensi bisa dilihat dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif, artinya ustadz mempunyai pengetahuan agama yang mumpuni. Afektif, ustadz mempunyai kemampuan mengaitkankan ajaran-ajaran agama dengan permasalahan sehari-hari. Sedangkan psikomotorik, ustadz itu mempunyai kehidupan atau perbuatan yang terpuji.

"Kalau tidak ada ketiga itu, berarti tidak layak disebut ustadz," ujar Imam. Ia berharap stasiun televisi lebih berhati-hati memilih penceramah. Televisi dihimbau untuk lebih mengutamakan kompetensi diatas unsur selebritas.