Rabu, 23 Mei 2012

Perancang Lambang Garuda Pancasila yang Terlupakan


Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi, Selamat siang, Selamat sore, dan Selamat Malam Reader. :) :) :)
Tadinya saya bingung mau awali posting apa buat blog baru yang direkomendasikan sama satu kamar saya. Karena sebenarnya blog ini khusus tentang Sejarah Indonesia dan Sejarah Mojokerto alias Mojopahit (tempat persinggahan saya. Hehe ). Ok, langsung saja sobat simak
.::Perancang Lambang Garuda Pancasila yang Terlupakan::.
yang saya adobsi dari selokartojaya.blogspot.com
Check it out..........!!!!!!!!!!!!


Siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.
Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.
Sekian, Semoga Bermanfaat :)

++-Menelusuri Jejak Imigran Jawa di Suriname-++


Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi, Selamat siang, Selamat sore, dan Selamat Malam Reader. :) :) :)
dalam kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang :

.::Menelusuri Jejak Imigran Jawa di Suriname::.
check it out...~!
Wajah Sidin pada pas foto di surat kesehatannya terlihat gagah. Pemuda asal Pekalongan itu menggunakan ikat kepala kain khas pemuda daerah pesisir Jawa, tidak berbaju dan bercelana putih.
Dalam foto tahun 1908 yang dibuat pemerintah kolonial Belanda untuk pelengkap surat kesehatan sebagai syarat mengiriman Sidin ke Suriname itu dia berpose duduk santai dengan tangan di atas paha.
Bagi cucu Sidin, foto itu mempunyai arti penting dan bersejarah.
Maurit S Hassankhan/Sandew Hira memuat foto Sidin itu dalam buku Historische Database Van Suriname, Gegevens Over de Javaanse Immigranten (Data Sejarah Suriname, Data Imigrasi Orang Jawa) yaitu buku yang berisi data para imigran Jawa ke Suriname.

Buku yang terbit atas gagasan Amrit Consultancy dan Institut Riset Ilmu Sosial Universitas Suriname itu secara menakjubkan berhasil memuat lengkap data menyangkut 32.965 orang Jawa yang 114 tahun lalu menjadi pekerja dan bermigrasi ke Suriname.
Dalam rencana semula buku itu sebenarnya untuk memuat data imigran Hindustani ke Suriname, namun saat proyek berjalan muncul ide untuk memasukkan pula data jati diri orang-orang Jawa yang dikirim pemerintah Kolonial Belanda ke daerah jajahannya, Suriname, sejak 9 Agustus 1890 hingga 13 Desember 1939.
Pada periode itu terdapat 32.965 orang Jawa yang di kirim ke Suriname, suatu negara koloni kecil di Amerika Selatan.
Para pekerja asal Jawa itu pada 1890-1914 di berangkatkan dari Jawa dalam kelompok-kelompok kecil dari daerah pemberangkatan mereka dari Jakarta (Batavia) dan Semarang.
Di suriname mereka dipekerjakan di ladang dan pabrik perkebunan tebu, kopi, cokelat dan lainnya. Hanya pada angkatan ke 77 pada tahun 1904 mereka dipekerjakan dalam pembuatan jalan kereta api.
Selama perang Perang Dunia I para imigran Jawa itu juga ada yang dipekerjakan di tambang bauksit di Moengo, Suriname.
Dalam data yang tercantum pada buku itu dimuat nama imigran, nama orang tua, jenis kelamin, usia saat diberangkatkan, hubungan keluarga dengan pekerja lainnya, tinggi badan, agama (semua disebutkan Islam), tempat tinggal terakhir, tempat keberangkatan, tanggal tiba di Suriname, lembaga perekrut, perusahaan yang mempekerjakan, daerah tempat bekerja di Suriname, nomer kontrak dan keterangan perubahan jika ada.
Mereka dikontrak untuk bekerja selama lima tahun, tetapi kenyataannya sebagian besar dari mereka terpaksa bekerja seumur hidupnya.
Dalam buku itu disebutkan hingga pada tahun 1954 sekitar 8.684 (26 persen)imigran tersebut sudah dikembalikan ke kampung halaman masing-masing.
Mereka yang ingin tinggal menjadikan Suriname sebagai kampung halaman, tetapi disebutkan pula ada sebagian orang yang memilih menjadi warga negara Belanda ketika Suriname menjelang merdeka (1965) karena ingin mendapatkan tunjangan sosial.
Kisah Suwarto Mustaja, tokoh masyarakat Jawa Suriname, bisa menjadi contoh.
Suwarto salah seorang keturunan para imigran Jawa pada saat muda gigih berjuang bersama orang tua dan masyarakat Jawa lainnya untuk mendapatkan hak mereka agar bisa dikembalikan ke Indonesia, tetapi ketika pemerintah Belanda mengijinkan mereka pulang, ibunya justru menangis dan memilih untuk tetap tinggal di Suriname.
“Di sini kamu (Suwarto) lahir dan di sini aku akan tinggal,” kata Ibu Suwarto dengan linangan air mata.
Dengan berat hati Suwarto muda akhirnya memilih untuk tetap tinggal di Suriname, meskipun bapaknya mendesaknya agar kembali ke Indonesia.
Meski pahit hidup di perkebunan di Suriname, terpaksa mereka terima apa adanya.
Kini keturunan mereka tidak lagi bekerja di perkebunan milik perusahaan Belanda seperti orang tuanya karena perusahaan perkebunan Belanda sudah tutup atau bangkrut.
Sebagian kecil dari mereka yang mendapatkan ‘kebebasan’ itu beralih profesi menjadi pedagang dan ternyata meraih sukses, bahkan ada yang mampu mendapat pemasukan bersih US$20.000 per bulan seperti yang dialami Wilem Sugiono.
Tetapi, ada banyak pula bekas imigran dan keturunannya yang masih tetap berladang di tanah seluas 1,25 hektar dengan beragam tanaman.
Jenifer, ibu seorang anak relatif beruntung dibandingkan keturunan imigran Jawa lainnya.
Perempuan yang bersuamikan pria bernama Azis itu mengelola kafe kecil di samping hotel meiliknya.
“Saya hanya bisa sedikit berbahasa Jawa,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih.
Di samping bahasa Inggris, dia juga fasih berbahasa Belanda, sebagaimana sebagian besar orang keturunan Jawa lainnya.
Dengan memiliki hotel berbintang dua, cafe dan kompleks perbelanjaan dia terlihat hidup nyaman di Paramaribo, ibukota Suriname.
Paramaribo adalah kota kecil, dibandingkan kota di Indonesia, tetapi kota itu terlihat eksotik dengan gedung-gedung peninggalan Belanda yang memenuhi kota.
Tonggak hubungan
Kedubes RI di kota itu sejak 1980 hingga sekarang berusaha menjaga hubungan baik dengan Suriname, terutama dengan warga Jawa dan keturunannya yang kini berjumlah 74.760 (17,8%) dari 481.146 penduduk Suriname.
Tonggak hubungan baik itu terlihat pada pendirian Gedung Sono Budoyo pada 1990 yang mendapat bantuan dari Soeharto, Persiden RI pada masa itu.
Gedung disertai sebuah tugu yang dibangun pada tahun 1990 itu sekaligus untuk memperingati 100 tahun kedatangan orang Jawa di Suriname.
Pada tahun 2005, di suriname akan diadakan peringatan tahun ke-115 kedatangan orang Jawa di negara yang merdeka pada 25 November 1975 itu.
Pemerintah Indonesia dan Suriname melanjutkan tradisi bersahabat dengan mengadakan sejumlah pertemuan, diantaranya pertemuan Komisi Bersama Bilateral I RI-Suriname yang berlangsung di Paramaribo pada 03-05 April 2003.
Pada 22 November 2004 diadakan sidang lanjutan di Jogjakarta. Pada pertemuan kedua itu disepakati adanya sejumlah kegiatan diantaranya pelatihan di bidang otomotif bagi warga Suriname yang akan dilaksanakan di Indonesia pada 2005.
Indonesia juga akan mengundang pembicara dari Suriname untuk membahas peringatan 115 tahun imigrasi orang Jawa ke Suriname dan 100 tahun pelaksanaan transmigrasi di Indonesia.
Dalam pertemuan Direktur Pemukiman Kembali Ditjen Mobilitas Penduduk Depnakertrans Sugiarto Sumas dengan Menteri Perencanaan dan Kerjasama Pembangunan Suriname Keremchand Raghoebarshing dan Menteri Perburuhan, Pengembangan Teknologi dan Lingkungan Clifford Marica di Paramaribo terungkap keinginan kedua pihak untuk mengadakan lebih banyak kegiatan.
Diantaranya, pengiriman tenaga ahli dari Indonesia untuk melatih tenaga Suriname di berbagai bidang diantaranya pertanian, pariwisata, agribisnis, agroindustri dan pengelolaan hutan.
Suriname juga sangat berminat untuk mempelajari cara Indonesia mengembangkan daerah produktif baru untuk perkebunan atau pengembangan suatu wilayah.
Komisi bersama, sebenarnya sudah membahas berbagai bidang kerja sama kedua negara, seperti pertukaran pengalaman pembangunan nasional, meningkatkan perdagangan kedua negara, investasi, angkutan udara, turisme, kerja sama di bidang teknis, bantuan di bidang pelatihan, pendidikan, beasiswa non geloar, kerja sama di bidang komunikasi dan informasi, pencegahan kejahatan, pertahanan, dan sejumlah isu lainnya.
Kerinduan para imigran dan keturunannya akan budaya Jawa juga terungkap dalam pertemuan masyarakat keturunan imigran Jawa dengan Dubes RI Suparmin Sunjoyo dan Sugiarto Sumas di Distrik Wanica, dekat dari Paramaribo.
Sarmo, seorang warga keturunan Jawa pada kesempatan itu mendesak agar Indonesia segera megirim Guru Bahasa Jawa, Dalang, dan pengajar tari untuk mereka.
Dia juga mengharapkan Indonesia bisa mengirim pakar pertanian. Sementara keluarga imigran lainnya menagih janji pengiriman guru pencak silat.
Suparmin menjawabnya dengan simpati.
“Saya sudah bertemu dengan Sultan HB X, beliau menyangupi untuk mengirim guru bahasa Jawa, dalang dan guru tari. Jadi, saya sudah berusaha mewudjukan keinginan tersebut sebelum Pak Sarmo memintanya,” kata Suparmin lalu disambut tepuk tangan hadirin.
Mengenai, permintaan guru pencak silat, Dubes juga sudah membicarakannya dengan Prabowo, tokoh pencak silat Indonesia, sedangkan untuk penyediaan tenaga ahli pertanian, Suparmin akan membicarakannya dalam pertemuan lanjutan ketiga Komisi Bersama kedua negara dalam waktu dekat.
Interaksi Indonesia dan Suriname bisa tergambar pada antusiasme dan desakan Sarmo dan kawan-kawan akan peningkatan keterlibatan Indonesia dalam sendi-sendi kehidupan mereka.
“Indonesia adalah saudara kulo. Negara mbah kulo,” kata Sarmo.
Sarmo dan kawan-kawan memang “saudara” bagi orang Indonesia, meski berlainan kewarganegaraan.
(Sumber: selokartojaya.blogspot.com)
Sekian, Semoga Bermanfaat :)  :)

++-Candi Grinting, Jatirejo Mojokerto-++



Terletak di Dusun Grinting, Desa Karangjeruk, Kecamatan Jatirejo. Belum banyak informasi yang diperoleh seputar candi ini selain asal usul ditemukannya candi oleh pengrajin batu bata yang diperkirakan semacam pondasi lama. 

Namun demikian banyak juga pengunjung yang mendatangi lokasi ini, khususnya pada malam hari.

++-Candi Jedong Trawas, Mojokerto-++



Candi Jedong terletak di Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro. Dari kota Mojokerto sekitar 30 km ke arah timur, 2 km sebelah selatan kawasan Industri Ngoro. 

Keberadaan wilayah ini, sudah disebut-sebut sejak jaman kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah sampai periode Kerajaan Mojopahit, oleh karenanya di dalam candi tersebut terdapat prasasti tiga jaman.

++-Candi Genting Ngoro, Mojokerto-++



Terletak di Desa Kutogirang Kecamatan Ngoro, sekitar 30 km arah timur dari terminal Kertajaya Mojokerto. Belum banyak informasi yang diperoleh seputar asal usul dan fungsi candi ini, meski demikian BP3 Jatim telah menetapkan kawasan ini sebagai kawasan cagar budaya.

++-Candi Gentong Trowulan, Mojokerto-++



Candi gentong, dinamakan seperti itu karena ketika ditemukan candi tersebut tertimbun oleh tanah yang menggunung dan membentuk seperti gentong tapi tidak ada keterangan pasti mengapa hal itu bisa terjadi. Candi gentong digunakan untuk upacara umat budha (upacara seradah).
Di dalam candi ditemukan lebih dari seratus stupika dan bagian tengah merupakan pusat dari candi. Di bagian belakang menurut masyarakat terdapat sumber air yang digunakan untuk ibadah tetapi setelah dilakukan penelitian tidak ditemukan hal tersebut yang ada hanya bilik-bilik saja.
 Di candi gentong telah ditemukan dua patung budha yang sekarang disimpan di museum pusat. Walaupun letak candi gentong berdekatan dengan candi brahu tetapi tidak ada hubungan secara langsung antara ke 2 candi ini karena candi brahu adalah candi hindu dan candi gentong adalah candi budha.

Selasa, 22 Mei 2012

++-Candi Brahu Trowulan, Mojokerto-+



Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit namun telah diaspal. Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya. 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal dari kata 'Wanaru' atau 'Warahu', yaitu nama sebuah bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti tembaga 'Alasantan' yang ditemukan kira-kira 45 meter disebelah barat Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.
Di sekitar kompleks candi pernah ditemukan benda-benda kuno lain, seperti alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda lain dari emas, serta arca-arca logam yang kesemuanya menunjukkan ciri-ciri ajaran Buddha, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha. Walaupun tak satupun arca Buddha yang didapati di sana, namun gaya bangunan serta sisa profil alas stupa yang terdapat di sisi tenggara atap candi menguatkan dugaan bahwa Candi Brahu memang merupakan candi Buddha. Diperkirakan candi ini didirikan pada abad 15 M.
 Candi ini menghadap ke arah Barat, berdenah dasar persegi panjang seluas 18 x 22,5 m dan dengan tinggi yang tersisa sampai sekarang mencapai sekitar 20 m. Sebagaimana umumnya bangunan purbakala lain yang diketemukan di Trowulan, Candi Brahu juga terbuat dari bata merah. Akan tetapi, berbeda dengan candi yang lain, bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar.
Kaki candi dibangun bersusun dua. Kaki bagian bawah setinggi sekitar 2 m, mempunyai tangga di sisi barat, menuju ke selasar selebar sekitar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Dari selasar pertama terdapat tangga setinggi sekitar 2 m menuju selasar kedua. Di atas selasar kedua inilah berdiri tubuh candi. Di sisi barat, terdapat lubang semacam pintu pada ketinggian sekitar 2 m dari selasar kedua. Mungkin dahulu terdapat tangga naik dari selasar kedua menuju pintu di tubuh candi, namun saat ini tangga tersebut sudah tidak ada lagi, sehingga sulit bagi pengunjung untuk masuk ke dalam ruangan di tubuh candi. Konon ruangan di dalam cukup luas sehingga mampu menampung sekitar 30 orang. Di kaki, tubuh maupun atap candi tidak didapati hiasan berupa relief atau ukiran. Hanya saja susunan bata pada kaki, dinding tubuh dan atap candi diatur sedemikian rupa sehingga membentuk gambar berpola geometris maupun lekukan-lekukan yang indah.
 Candi Brahu mulai dipugar tahun 1990 dan selesai tahun 1995. Menurut masyarakat di sekitarnya, tidak jauh dari Candi Brahu dahulu terdapat beberapa candi lain, seperti Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah dan Candi Gentong, yang sekarang sudah tidak terlihat

++-Candi Kedaton Trowulan Mojokerto-++

Situs Kedaton merupakan sebuah kompleks sisa bangunan kuno yang berada di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, yang terbuat dari susunan batu bata merah peninggalan dari jaman Kerajaan Majapahit. Di Situs Kedaton ini terdapat Candi Kedaton, Sumur Upas dan sisa-sisa kompleks bangunan perumahan yang diduga berasal dari abad ke-13.

Candi Kedaton, yang berada di sisi sisi kiri Situs Kedaton, berupa bagian bawah bangunan candi atau pendopo kuno berbentuk persegi datar yang dibuat dari susunan batu bata merah setinggi hampir 2 m, tanpa bagian atas. Lokasi Situs Kedaton ini tidak begitu jauh dari Pendopo Agung Trowulan.

Galian purbakala di Situs Kedaton yang diduga merupakan sisa permukiman penduduk yang hidup pada jaman Kerajaan Majapahit. Area galian Situs Kedaton yang cukup luas ini dilindungi dengan atap seng yang rendah, sehingga di beberapa lokasi pengunjung harus menundukkan kepala, dengan hawa yang panas. 

Salah satu lokasi galian di Situs Kedaton yang cukup dalam, dengan tumpukan batu bata merah di sekitarnya yang nyaris putih warnanya.

Sebuah undakan dan dinding bata yang cukup tinggi pada sebuah area yang sempit. Jika pun sebuah permukiman, entah apa fungsi area yang lebih menyerupai sebuah benteng atau lorong ini, ketimbang bagian dari sebuah bangunan perumahan.

Sederetan batu bata Situs Kedaton yang disusun menyudut, terlihat seperti menyangga tumpukan batu bata di atasnya. Dinding di bawahnya terlihat semakin ke kanan semakin dalam, dengan undakan yang tidak begitu lebar di sisi kanannya.

Bagian bawah dinding bata Situs Kedaton yang masih terlihat utuh dan kokoh, sementara susunan batu bata di atasnya seperti sudah tidak lagi terekat dengan baik.

Sebuah sumur tua yang di duga tadinya adalah Sumur Upas, sumur di Situs Kedaton dengan kedalaman sekitar 6 m yang sering digunakan untuk bertirakat, dan airnya digunakan untuk mensucikan diri sebelum bersemedi.
Kegiatan ekskavasi di Situs Kedaton yang masih menyimpan misteri ini sampai saat itu masih belum selesai, meskipun kabarnya telah menghasilkan temuan gerabah dan keramik, fragmen arca, serta beberapa kerangka manusia.
 

++-Candi Wringin Lawang-++


Berupa bangunan gapura agung dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter dengan arsitektur candi bentar atau “candi terbelah” yang sampai sekarang sering diaplikasikan dalam gaya arsitektur Bali. Fungsi utama bangunan ini diduga adalah sebagai pintu gerbang menuju kawasan utama di ibukota kerajaan Majapahit. Lokasinya sangat mudah dijangkau karena terlihat dari jalan utama Surabaya-Solo, tepatnya di daerah Brangkal, sebelum memasuki wilayah Trowulan.

++-Candi Tikus Trowulan, Mojokerto-++



Candi Tikus terletak di di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan,
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan. Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi Bajangratu.
Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. Nama 'Tikus' hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus.
Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13 sampai 14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.
Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja, namun sebagian pakar ada yang berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan. 
 Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik, adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam.

Di kiri dan kanan kaki tangga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 m x 2 m dengan kedalaman 1,5 m. Pada dinding luar masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit.
tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah 'menara' setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara.

Hal lain yang menarik ialah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan candi ini. Kaki candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di candi inipun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit.

Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui tahap. Dalam pembangunan kaki candi tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan usia yang lebih kecil. Pancuran air yang terbuat dari bata merah diperkirakan dibuat dalam tahap pertama, karena bentuknya yang masih kaku. Pancuran dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat dalam tahap kedua. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan.


Minggu, 20 Mei 2012

++-Candi Bangkal Ngoro, Mojokerto-++



Candi Bangkal terletak di Desa Bangkal, Kecamatan Ngoro. Denah candi berbentuk segi empat. Pada kaki candi terdapat tangga menuju bilik candi. Diatas pintu bilik terdapat hiasan kala. Candi ini termasuk salah satu yang masih berdiri kokoh. 

Berdasarkan legenda masyarakat setempat pada zaman dulu pernah terjadi gempa bumi, akibatnya banyak rumah penduduk yang roboh, namun Candi Bangkal tetap berdiri utuh, tanpa retak sedikitpun.

Pada waktu tertentu, warga setempat menggelar acara sedekah bumi, salah satunya digelar pentas wayang kulit. Tradisi ini dilakukan setiap sehabis panen.

++-Candi Jolotundo Trawas, Mojokerto-++



Candi Jolotundo terletak di lereng utara Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. Jarak dari kota Surabaya + 55 Km, dapat dicapai dengan kendaraan pribadi roda 2 maupun roda 4.

Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan yang dibuat pada zaman Airlangga ( Kerajaan Kahuripan ). Berukuran panjang: 16, 85 m, lebar: 13, 52 m dan kedalaman: 5, 20 m. Terbuat dari batu andesit yang dipahat halus. Dua data sejarah yang sangat penting yang berhubungan dengan kepurbakalaan ini adalah angka 997 M yang dipahatkan di sebelah kanan dan tulisan Yenpeng di sebelah kiri dinding belakang. 

Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun pada tahun 997 M. Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini adalah tempat pertapaan Airlangga setelah mengun-durkan diri dari singgasana dan diganti anaknya.

Keunikan petirtaan ini adalah debit airnya yang tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau. Berdasarkan penilitian, kualitas airnya terbaik di dunia dan kandungan mineralnya sangat tinggi. Pada hari-hari tertentu dijadikan tempat ritual bagi sebagian orang untuk mencari keberkahan. 

Di sekitar candi, disediakan pendopo dan gazebo untuk menikmati suasana sejuk dan nyaman. Kawasan Jolotundo juga dapat dijadikan titik awal menuju 17 candi lain yang tersebar di sepanjang jalur pendakian Gunung Penang-gungan. Lebih kurang 1 km sebelum candi Jolotundo terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman.

++-Kolam Segaran Trowulan Mojokerto-++



Kolam Segaran terletak di Dukuh Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.
Dari perempatan jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan simpang ke arah selatan. Letak kolam di sisi kiri jalan simpang tersebut, sekitar 500 meter dari jalan raya.

Kolam Segaran ditemukan pada tahun 1926, dalam keadaan teruruk tanah. Pada tahun 1966 kolam ini mengalami pemugaran sekedarnya. Baru pada tahun 1974 dimulai pelaksanaan pemugaran yang lebih terencana dan menyeluruh, yang memakan waktu sepuluh tahun. Fungsi Kolam Segaran belum diketahui secara pasti, tetapi menurut masyarakat di sekitarnya, kolam tersebut digunakan keluarga Kerajaan Majapahit untuk berekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Kolam ini merupakan satu-satunya bangunan kolam kuno terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Kolam yang luas keseluruhannya kurang lebih 6,5 hektar, membujur ke arah utara-selatan sepanjang 375 m dengan lebar 175 m. Sekeliling tepi kolam dilapisi dinding setebal 1,60 m dengan kedalaman 2,88 m.


Di pintu masuk yang terletak di sebelah barat, terdapat emperan yang menjorok ke tengah kolam. Di sisi dalam emperan terdapat undakan untuk turun ke kolam. Seluruh dinding dan emperan terbuat dari susunan batu bata tanpa bahan perekat. Konon untuk merekatkannya, batu bata yang berdampingan digosokkan satu sama lain.

Di sisi tenggara terdapat saluran yang merupakan jalan masuk air ke dalam kolam, sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran jalan keluar air. Air yang keluar mengalir ke Balongdawa (empang panjang) yang letaknya di barat laut dan Balongbunder (empang bundar) di selatan. Menilik adanya saluran masuk dan keluar air, diduga Kolam Segaran dahulunya juga berfungsi sebagai waduk dan penampung air. Para ahli memperkirakan bahwa kolam ini adalah yang disebut sebagai telaga dalam Kitab Negarakertagama.

Sabtu, 19 Mei 2012

++-Sejarah Mojokerto-++



Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi, Selamat siang, Selamat sore, dan Selamat Malam Reader. :) :) :)
Oke, back with us, Ai IV Community. To the point aja yach. Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi ilmu tentang sejarah Mojokerto. Tapi sebelum itu alangkah baiknya kalau berkenalan dengan Mojokerto. Kan ada pepatah gini “ kalau tak kenal maka tak sayang”. Wkkwkw tapi kalau uda kenal jangan di sayang yach.. ntar sobat di marahin sama gebetannya mojokerto, rasain lu... wkwkkwk.emank punya..??(maybe)
Sebenarnya Mojokerto ini akrab di sapa dengan “Moxer” alias nama kerennya. Hehe...^_^ . Sebagai wilayah yang terletak di Jatim(Jawa Timur Sob bukan Jakarta Timur...), Indonesia. Mojokerto adalah tempat pertama kalinya di temukan kerajaan Majapahit.
Mojokerto, terutama Kabupaten Mojokerto termasuk dalam daerah strategis di Jawa Timur, Indonesia yang wilayah geografisnya terletak pada posisi 7’71 Lintang Selatan Untuk 7’45’ dan 111’19’’ untuk 112’39 Bujur.
1. di utara berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Gresik,
2. di selatan berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Pasuruan
3. di timur berbatasan dengan Sidoarjo dan Kabupaten Gresik.
Mojokerto merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Timur yang memiliki berbagai objek yang kaya dan objek wisata yang sangat banyak diantaranya obyek wisata alam,budaya,kepurbakalaan,wisata buatan dan pendukung wisata kerajinan/cinderamata serta makanan khas dan juga produk unggulan. Situs peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan misalnya merupakan bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Mojokerto dulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan besar yang berhasil menyatukan wilayah Nusantara. Kebesaran Majapahit tentunya menjadikan masyarakat Mojokerto masih mewarisi keagungan budayanya. Menurut catatan sejarah dan beberapa prasasti yang layak dipercaya menunjukkan bahwa, pusat pemerintahan kerajaan Majapahit berada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Mojokerto tepatnya di Trowulan.
Dari beberapa situs peninggalan Majapahit tersebut selain mempunyai nilai sejarah yang tinggi juga merupakan daya tarik wisata yang sangat memikat. Termasuk benda-benda peninggalan yang berupa patung serta peninggalan yang lainnya dapat dilihat dalam museum purbakala yang letaknya dekat dengan Pendopo Agung yangmerupakan bangunan khas jawa Majapahit yang didirikan diarea dimana terdapat beberapa umpak yang diyakini sementara orang sebagai umpak bangunan keraton Majapahit. Selain trowulan Gunung Penanggungan juga merupakan daerah wisata budaya yang cukup menarik. Disini tersebar tidak kurang dari delapan puluh candi, sehingga ada sementara orang menjuluki gunung Penanggungan denga istilah The Mountain with The Thousand Temples. Bentuk-bentuk candi di gunung Penanggungan sangat lain dengan candi pada umumnya,yaitu berupa bangunan teras berundak yang diatasnya terdapat altar upacara. Trawas selain sebagai kawasan wisata alam,juga terdapat peninggalan yang sangat spektakuler. Disini ditemukan Archa Buha Aksobya terbesar di Indonesia yang oleh masyarakat disebut dengan nama Reco Lanang dan Reco Wadon. Pengantin Majaputri misalnya merupakan salah satu bentuk replika keagungan budaya kerajaan Majapahit. Berbagai karya seni dan kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Mojokerto merupakan cendera mata yang akan memberikan kenangan tersendiri bagi wisatawan yang datang dan membawanya.Datanglah bersama teman,keluarga ataupun teman spesial sebagai tempat refresing,belajar atau sekedar membawa oleh-oleh. Okey kalau anda penasaran banget datang saja di kotaku ini dijamin memuaskan dan happy ending.....Selamat Datang di Mojokerto. Hehe...
Warisan Kerajaan Majapahit di Trowulan adalah bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Mojokerto pernah menjadi pusat utama dari pemerintahan Kerajaan berhasil menyatukan Nusantara. Kebesaran Majapahit tentu membuat orang Mojokerto masih mewarisi kebesaran budaya. Menurut catatan sejarah dan beberapa prasasti yang menunjukkan handal yang, pusat administrasi kerajaan Majapahit di wilayah Kabupaten Mojokerto tepatnya di Trowulan. Untuk lebih detailnya. Klik salah di bawah ini...
1. Candi Brahu Trowulan, Mojokerto
2. Candi Tikus Trowulan, Mojokerto
3. Candi Gentong Trowulan, Mojokerto
4. Candi Bajang Ratu Trowulan, Mojokerto
5. Kolam Segaran Trowulan, Mojokerto

Jumat, 11 Mei 2012

++-LAMBATNYA BICARA PADA LAKI-LAKI-++




Sejumlah riset dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa bayi perempuan umumnya cenderung lebih cepat berbicara ketimbang bayi laki-laki. Apa penyebabnya?

 Hal ini rupanya diduga disebabkan oleh kadar hormon testosteron yang tinggi pada janin. Ya, sebuah riset terbaru menemukan bahwa bayi laki-laki yang terpapar testosteron (kadar yang tinggi) di dalam janin dua kali lebih mungkin mengalami keterlambatan perkembangan bahasa.
"Diperkirakan, 12 persen balita mengalami penundaan yang signifikan dalam perkembangan bahasa mereka," kata Andrew Whitehouse, associate professor dari Perth Telethon Institute for Child Health Research.
"Perkembangan bahasa bervariasi di antara individu. Anak laki-laki umumnya cenderung lebih lamban ketimbang anak perempuan," tambah Whitehouse, yang memimpin penelitian.

Whitehouse mengatakan, sangat penting untuk menjelaskan apa sebenarnya yang menyebabkan perbedaan keterlambatan perkembangan bahasa antara anak laki-laki dan perempuan. Ia dan rekan menduga bahwa hal ini mungkin ada hubungannya dengan paparan hormon testosteron.

 Untuk mengetahuinya, peneliti mengukur kadar testosteron dalam darah tali pusat dari 767 bayi baru lahir, sebelum memeriksa kemampuan bahasa mereka di tahun pertama, kedua dan ketiga. Hasil penelitian menunjukkan, anak laki-laki dengan tingkat tinggi testosteron dalam darah tali pusat, dua sampai tiga kali lebih mungkin mengalami keterlambatan bahasa. Janin laki-laki diketahui memiliki 10 kali tingkat sirkulasi testosteron ketimbang perempuan.

Namun efek yang berlawanan ditemukan pada anak perempuan, di mana tinggi tingkat testosteron dalam darah tali pusat dikaitkan dengan penurunan risiko keterlambatan bahasa (berbicara).

Sebelumya, sudah ada studi skala kecil yang meneliti hubungan antara kadar testosteron dalam ketuban dan perkembangan bahasa. Namun peneliti mengklaim bahwa temuan ini sebagai yang pertama dan terbesar di mana mengeksplorasi hubungan antara darah tali pusat dan keterlambatan bahasa dalam tiga tahun pertama kehidupan. Riset dipublikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry. @kompas



Little thing About Narsistik


Narsis. Pasti nggak asing lagi sama kata itu kan?apalagi temen-temen pelajar. Syndrome ini telah menyebar. Lebih cepat ketimbang virus FB alias Flu Babi(HINI).

Gimana nggak, semua pelajar sekarang pada narsis. Setiap ada kemera, wuisssh. Pasti udah pada ngeluarin aura kasih. Lho….koq Aura Kasih ? Aura Narsis Maksudnya.
Dari ngomongin Narsis, eh tau nggak sich artina?
Yupzz. Narsih bisa juga disebut kelebihan percaya diri. Ini bermakna perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Menurut sejarahnya, istilah ini pertama kali digunakan dalam pertama oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus yang di kutuk. Akibatya kutukan itu, dia mencintai bayangannya sendiri di dalam kolam. Tanpa sengaja ia menjulur tangannya dan ia tenggelam. Lantas tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.
Tau nggak, kalo orang yang narsis tidak selalu percaya diri di depan umum lho? Namun bisa juga ditunjukkan dengan suka memfoto diri sendiri. biasanya orang yang narsis adalah seorang model. Karena mereka sering sekali mendapatkan pujian dan itu menyebabkan mereka merasa percaya diri dan akhirnya berlebihan.
Nach guyz, kita biasanya suka memfoto dirinya dengan menggunakan kamera dari ponsel dengan angle yang tinggi, sudut bibir membentuk ketika mengucap kata “Keju”, matanya disipitkan agar mirip dengan Ayumi Hamasaki, artis jepang. Tidak heran, mayoritas pelaku aksi narsis adalah kaum hawa.
Then, tadii aq blogging walking nemu ciri-ciri narsis nii di warung http://ciricara.com
1. Sangat mementingkan diri sendiri dengan melebih-lebihkan prestasi dan bakat yang dimiliki serta memiliki harapan untuk dikenal sebagai orang yang unggul.
2. Memiliki fantasi yang berlebih-lebihan dan sangat tidak realistis dengan kisah cinta atau kekuatan serta kecantikan yang ideal.
3. Percaya diri tinggi karena merasa dirinya spesial dan berbeda sehingga bergaul hanya dengan orang-orang tertentu saja.
4. Menginginkan pujian yang berlebihan.
5. Ingin memiliki julukan tertentu.
6. Mengambil keuntungan di segala situasi dan egois.
7. Tidak berempati terhadap orang lain.
8. Iri dengan keberhasilan orang lain dan merasa bahwa orang lain juga iri kepadanya. 9. Suka merendahkan orang lain.
10. Berkepribadian lemah, emosional, dan mudah terluka. 

Kamis, 10 Mei 2012

Kebiasaan NgeBLog dan Peningkatan Kecerdasan Linguistik


Ngeblog, atau menulis di blog (website) adalah aktivitas yang cukup positif untuk melatih kecerdasan linguistik. Kita secara tidak langsung akan terlatih untuk bercerita, baik itu dengan bahasa kita sendiri, maupun dengan bahasa yang sesuai dengan kaidah penulisan. Ngeblog secara luas dapat diartikan tak hanya menuliis di blog, tetapi juga membaca tulisan (blog) orang lain, tau lebih dikenal dengan istilah blogging atau blog walking.Kecerdasan Linguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif (Armstrong, 2005) atau hal-hal yang berhubungan dengan kepekaan pada makna dan susunan kata (Hoerr, 2007). Oleh sebagian pakar pendidikan kecerdasan ini disebut sebagai kecerdasan verbal. Membaca dan menulis yang menjadi tolok ukur tes bakat tradisional merupakan contoh dari kecerdasan ini. Kecerdasan linguistik seringkali menjelma dalam kata-kata baik tulisan maupun lisan. (http://baguserek.blogspot.com)
Dengan ngeBlog kita secara tidak langsung akan terbiasa dan terlatih untuk menuangkan pikiran, ide, konsep ke dalam sebuah tulisan. Bagi blogger pemula, mungkin tulisan akan terasa aneh dan kaku, tata bahasanya juga sedikit tak beralur, namun hal itu cukup wajar. Kian lama, seiring seringnya si blogger membaca blog orang lain, dengan sendirinya tulisan si pemula tadi akan mulai memiliki alur yang bagus. Nantinya seorang blogger akan memiliki kecerdasan linguistik (kecerdasan yang terkait dengan bahasa) yang akan terus meningkat.
Namun sebagaimana ditulis Kompas dalam artikelnya tentang Tradisi Menulis Lebih Rendah daripada Minat Baca di http://edukasi.kompas.com, menjadikan perhatian tersendiri bagi sebagian kalangan seperti halnya komunitas bloggerngalam.
Blogger Ngalam sebagai komunitas blogger kota Malang, dengan “
Lomba Blog Wisata Sejarah Kota Malang” yang patut diacungi jempol ini, ingin menumbuhkan dan meningkatakan minat menulis di kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk gemar menulis dengan memanfaatkaan blog.
Dengan ngeblog, kita akan terbiasa untuk berbahasa, menyampaikan pemikiran, dan apa yang ada di benak kita agar bisa dibaca oleh orang lain. Soal mutu tulisan, perlahan tapi pasti, mutu tulisan dari seorang blogger kian lama juga pasti akan kian meningkat. Semakin sering seseorang blog walking dan blogging, kecerdasan lingustiknya akan semakin meningkat.
Dari seorang blogger menjadi penulis. Nah inilah salah satu manfaat yang mungkin dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat baik bagi si blogger maupun bagi pembaca. Tak sedikit blogger yang menjadi penulis ternama, seperti halnya si penulis “Kambing Jantan”, Raditya Dika yang juga seorang blogger.
Blogging juga tak hanya melatih kecerdasan linguistik, tapi juga dapat membantu intuisi visual karena seringnya melihat tampilan berbagai tema dari blog-blog yang dikunjungi. Secara tidak sadar sense of colour kita juga akan terpengaruhi, terutama para blogger yang memiliki kemampuan desain. Banyak diantara blogger yang juga memiliki kemampuan untuk membuat tema atau desain blog yang patut diacungi jempol.
NgeBlog sangat pas untuk menjadi bagian kurikulum pendidikan formal di negara kita, karena aktivitas ini secara tidak langsung akan menumbuhkan minat baca, dan minat menulis. Membudayakan membaca dan menulis blog juga akan meningkatkan minat si anak untuk memiliki kecerdasan lingusitik, dimana kecerdasan ini akan memberi manfaat kepada si anak untuk dapat bercerita/menulis atau menyampaikan pendapat kepada orang lain atau di depan audience, dengan perbendaharaan kata yang dimilikinya sebagai efek dari ngeblog ini. Ide-ide cemerlang akan muncul dengan sendirinya jika sering dilatih menulis dan membaca melalui aktivitas blogging.
Nah, itulah mengapa blogging atau ngeblog dapat meningkatkan kecerdasan linguistik.. Anda masih belum percaya? Mulailah ngeBlog sekarang dan lihat efeknya beberapa tahun ke depan.. *_^
“Orang yang gagal lebih daripada orang yang tak pernah berani mencoba”

Resensi : Resensi : Komunitas Blogger Malang (Ngalam)Komunitasnya Arek-arek Blogger Malang (Ngalam) Raya